Ku pandang samudera yang terbentang lebar
Aku berdiri kokoh tapi ternyata lunglai
Lemah dan tak dapat berbuat apa-apa
Aku terus coba bertahan melawan kegetiran
Menatap mencari siang yang panas
Menahan dinginnya angin dan kebimbangan
Yang ingin mengajakku terjun kebawah
Aku coba terus .............
Meski kaki bergetar
Semakin ku mencoba
Semakin tak mampu lagi aku berdiri
Sepercik asa menyentuh jiwaku
Mengalirkan semangat dilembah keputus asaan
Kerikil kehidupan yang tajam , dan........
Badai datang menawarkan kegoyahan
Mencoba memberikan kebimbangan
Tapi ku tak perduli walaupun berat
Ku kan tersenyum pada badai
Badai pasti kan berlalu
Cobaan berat juga akan pergi
Berganti dengan kebahagiaan melingkupi hati
Welcome To My SIte....
Tempat aku mencurahkan asa dalam penggalan kata yang semoga saja bermakna...
About Me
- Mytha Pertiwi
- Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia
- Terlahir 28 Mei 1990, ketika sinar matahari ada pada bintang Gemini.. Gemini orang yang gesiiitt... Wush wush kaia akuw...hehehhe Gemini punya aura pemikat yang kuat banget... Terbukti sama aku...hmmmmm.. Kadang aku gk bisa kontrol emosi... Memberikan kesan saat melakukan tugasnya bahwa dia mempunyai kepribadian ganda..
Mari Belajar Bersama
Kita diciptakan dengan segenap asa...
Patut kiranya, kita olah apa yang telah kita terima...
Rangkailah apa yang ada dan terlintas dalam anganmu...
Tuliskan apa yang kamu ingin tulis...
Tentang seluruh perasaan yang ada dalam hati dan pikiranmu...
Karena akan menjadi sebuah kepuasan tersendiri...
Sabtu, 22 Januari 2011
Memohon Asa
Ingin kemudian kurangkai kata
Namun tinta penaku telah luruh mengering bersama
duka
Ingin kulukiskan berjuta indah kejora
Namun kanvasku telah luruh lebur dalam air mata
maya..................
Lelah sudah aku mencari, menatih dan tertatih
dalam jejak-jejak langkah.
Mengayuh sebuah biduk rapuh, dalam
pengembaraan sunyi…
Sebuah sepi yang tidak pernah henti…
Aku hanya ingin sebuah kata saja… yang terlontar
di suatu saat…
Namun bila kemudian kelu yang hadir, diam seribu
bahasa,.. dalam sekian masa…
Sesungguhnya yang terjadi adalah aku sedang
membunuh rasa…
Yang ingin kutenggelamkan jauh-jauh…
Dan kukuburkan di lapisan volcano terdalam…
Maka kelu itu adalah sebuah pertempuran yang
tidak pernah dapat aku menangkan…
Dan bila kemudian suatu saat akhirnya ada kata
terucap…
Bukan sebuah pemuasan atas ingin yang begitu
menggejolak…
Sebab itu adalah wujud lain dari pembunuhan ego…
Yang mencoba bersembunyi dalam pendaman hati
yang dalam…
Namun terkadang meluap diam-diam…
Entah dalam bentuk expresi apa..
Adakah sebuah bodoh…
Dalam pencarian jalan, merekatkan sebongkah
asa .. dilautan badai..
Aku menaruh awamku begitu saja…
Dalam lautan asa yang debur gelombangnya
begitu menggelora…
Buih-buih pesonanya yang timbul tenggelam..
terhempas…
Dan memagnet dahsyat… Menggiringku ke
sebuah pusaran..
Atas nama Cinta.
Aku ingin mencintai-Mu sepenuhnya…
Sedalam hati yang tak pernah terselami…
Atau setinggi ego.. yang tak pernah terukur selalu
meninggi…
Sejak aku mengenal rasa cinta itu yang harus
hadir…
Dalam setiap detik perjalanan hidup,.. perpaduan
emosi dan realiti..
Ketika setiap hal yang dilakukan harus karena
cinta kepada-Nya..
Tertuju kepada-Nya..
Ah namun kemudian aku masih bodoh memakna-i
Cinta…
Aku hanya sebutir debu nebula yang bermimpi
menggapai kejora..
Namun adakah diriku salah.. ketika aku
mendamba sangat…
Untuk dapat berdekatan selalu,.. mendekap
hangat dan berbincang dekat..
Menghiasi malam-malam berduaan saja…
Menghabiskan Sisa malah menjelang subuh tiba..
Bercengkrama.. Menaruh sebuah
harapan…Memohonkan asa..
Namun tinta penaku telah luruh mengering bersama
duka
Ingin kulukiskan berjuta indah kejora
Namun kanvasku telah luruh lebur dalam air mata
maya..................
Lelah sudah aku mencari, menatih dan tertatih
dalam jejak-jejak langkah.
Mengayuh sebuah biduk rapuh, dalam
pengembaraan sunyi…
Sebuah sepi yang tidak pernah henti…
Aku hanya ingin sebuah kata saja… yang terlontar
di suatu saat…
Namun bila kemudian kelu yang hadir, diam seribu
bahasa,.. dalam sekian masa…
Sesungguhnya yang terjadi adalah aku sedang
membunuh rasa…
Yang ingin kutenggelamkan jauh-jauh…
Dan kukuburkan di lapisan volcano terdalam…
Maka kelu itu adalah sebuah pertempuran yang
tidak pernah dapat aku menangkan…
Dan bila kemudian suatu saat akhirnya ada kata
terucap…
Bukan sebuah pemuasan atas ingin yang begitu
menggejolak…
Sebab itu adalah wujud lain dari pembunuhan ego…
Yang mencoba bersembunyi dalam pendaman hati
yang dalam…
Namun terkadang meluap diam-diam…
Entah dalam bentuk expresi apa..
Adakah sebuah bodoh…
Dalam pencarian jalan, merekatkan sebongkah
asa .. dilautan badai..
Aku menaruh awamku begitu saja…
Dalam lautan asa yang debur gelombangnya
begitu menggelora…
Buih-buih pesonanya yang timbul tenggelam..
terhempas…
Dan memagnet dahsyat… Menggiringku ke
sebuah pusaran..
Atas nama Cinta.
Aku ingin mencintai-Mu sepenuhnya…
Sedalam hati yang tak pernah terselami…
Atau setinggi ego.. yang tak pernah terukur selalu
meninggi…
Sejak aku mengenal rasa cinta itu yang harus
hadir…
Dalam setiap detik perjalanan hidup,.. perpaduan
emosi dan realiti..
Ketika setiap hal yang dilakukan harus karena
cinta kepada-Nya..
Tertuju kepada-Nya..
Ah namun kemudian aku masih bodoh memakna-i
Cinta…
Aku hanya sebutir debu nebula yang bermimpi
menggapai kejora..
Namun adakah diriku salah.. ketika aku
mendamba sangat…
Untuk dapat berdekatan selalu,.. mendekap
hangat dan berbincang dekat..
Menghiasi malam-malam berduaan saja…
Menghabiskan Sisa malah menjelang subuh tiba..
Bercengkrama.. Menaruh sebuah
harapan…Memohonkan asa..
Kamis, 20 Januari 2011
Rajutan Cinta Untuk Kekasih
Benang yang aku rajut dari dulu…
Kini tak berarti apa – apa…
Semua tak dapat dinikmati...
Karena kecerobohanku sendiri..
Karena kesalahanku sendiri...
Karena kebodohan yang aku milki...
Benang yang hendak kurajut untuk kujadikan baju hangat..
Mungkin tak akan pernah ada...
Helai benang itu kini telah rusak...
Oleh ulahku sendiri...
Seharusnya hanya ada dua benang saja..
Tapi aku yang pandai dalam mengikatnya...
Sampai akhirnya benang itu putus...
Dan sampai saat ini sangat sulit untuk ku sambung kembali...
Karena apa???
Karena kebodohanku..
Aku yang bodoh ini mencoba dan terus mencoba...
Apa yang bisa aku lakukan untuk bisa menyambung benang itu kembali...
Aku lihat rajutan itu...
Sangat indah, tapi mungkin akan tak bisa dinikmati...
Kutangisi aku yang bodoh...
Yang hanya untuk membuat sebuah rajutan seperti ini saja aku tak mampu...
Aku yang bodoh yang tak bisa menjaga benang ini agar tak putus...
Sungguh aku tak ingin benang ini putus...
Lagi – lagi karena kobodohanku...
Karena hasratku yang ingin sedikit mencoba warna benang yang lain...
Tapi semua justru malah berantakan..
Rajutan itu kini telah ternoda oleh warna yang lain...
Putusnya benang itu juga bukan mau ku...
Aku yang bodoh yang berusaha untuk melepas benang warna lain itu...
Tak mampu, tak pandai...
Ku ambil gunting...
Ingin ku potong benang warna yang lain..
Tapi karena kebodohanku lagi...
Dua benang itu ikut terpotong...
Benang itu putus...
Betapa menyesalnya aku yang bodoh...
Yang sempat silau oleh benang warna lain..
Yang menjadikan rajutan itu rusak...
Aku yang bodoh yang kini menyesal...
Yang kini tak tahu harus berbuat apa..
Karena tak akan kudapati dua benang itu lagi...
Tak akan...
Dimana pun..
Tak akan ada yang bisa menggantikan..
Aku yang bodoh yang tak tahu harus berbuat apa..
Yang ingin menjadikan rajutan itu sebuah baju hangat...
Mungkin tak akan pernah menjadi nyata...
Tak ada rajutan baju hangat yang indah..
Baju hangat untuk yang tercinta...
Karena rajutan yang rusak kini basah oleh penyesalan...
Karena dua benang itu kini putus oleh kebodohan..
Kebodohan aku yang silau oleh benang yang lain..
Andai bisa aku menyambung dua benang yang putus itu..
Akan kusambung lagi, akan kurajut kembali...
Aku yang bodoh ini akan berusaha...
Berusaha menyelesaikan rajutan baju hangat itu sampai akan menjadi indah...
Akan kurajut dengan sangat berhati – hati...
Tak akan ku biarkan benang itu kembali putus...
Tak akan...
Tak akan kuizinkan benang itu digantikan oleh benang yang lain..
Sampai dalam do’a pun...
Aku yang bodoh ini meminta pada Tuhan - Nya..
Ku adukan semua kesalahan dan kebodohanku...
Meminta agar Tuhan menyambung benang itu kembali...
Agar aku yang bodoh ini...
Bisa memperbaiki rajutan baju hangat untuk yang tercinta..
Jika masih ada kesempatan....
Aku yang bodoh ini...
Berjanji tak akan menyia – nyiakan semuanya..
Berjanji akan menjaga apa yang telah diberikan oleh Tuhan – Nya..
Ya Allah, kuselipkan namanya dalam do’aku..
Agar Engkau senantiasa menjaga hatinya...
Karena aku yang bodoh ini..
Tak mampu menjaga hatinya yang sempat kau titipkan kepadaku...
Ya Allah, kupanjatkan pula do’a untuknya...
Agar dia berkenan membuka hatinya kembali..
Karena sungguh aku yang bodoh ini masih sangat berharap sayang dan cintanya..
Kini tak berarti apa – apa…
Semua tak dapat dinikmati...
Karena kecerobohanku sendiri..
Karena kesalahanku sendiri...
Karena kebodohan yang aku milki...
Benang yang hendak kurajut untuk kujadikan baju hangat..
Mungkin tak akan pernah ada...
Helai benang itu kini telah rusak...
Oleh ulahku sendiri...
Seharusnya hanya ada dua benang saja..
Tapi aku yang pandai dalam mengikatnya...
Sampai akhirnya benang itu putus...
Dan sampai saat ini sangat sulit untuk ku sambung kembali...
Karena apa???
Karena kebodohanku..
Aku yang bodoh ini mencoba dan terus mencoba...
Apa yang bisa aku lakukan untuk bisa menyambung benang itu kembali...
Aku lihat rajutan itu...
Sangat indah, tapi mungkin akan tak bisa dinikmati...
Kutangisi aku yang bodoh...
Yang hanya untuk membuat sebuah rajutan seperti ini saja aku tak mampu...
Aku yang bodoh yang tak bisa menjaga benang ini agar tak putus...
Sungguh aku tak ingin benang ini putus...
Lagi – lagi karena kobodohanku...
Karena hasratku yang ingin sedikit mencoba warna benang yang lain...
Tapi semua justru malah berantakan..
Rajutan itu kini telah ternoda oleh warna yang lain...
Putusnya benang itu juga bukan mau ku...
Aku yang bodoh yang berusaha untuk melepas benang warna lain itu...
Tak mampu, tak pandai...
Ku ambil gunting...
Ingin ku potong benang warna yang lain..
Tapi karena kebodohanku lagi...
Dua benang itu ikut terpotong...
Benang itu putus...
Betapa menyesalnya aku yang bodoh...
Yang sempat silau oleh benang warna lain..
Yang menjadikan rajutan itu rusak...
Aku yang bodoh yang kini menyesal...
Yang kini tak tahu harus berbuat apa..
Karena tak akan kudapati dua benang itu lagi...
Tak akan...
Dimana pun..
Tak akan ada yang bisa menggantikan..
Aku yang bodoh yang tak tahu harus berbuat apa..
Yang ingin menjadikan rajutan itu sebuah baju hangat...
Mungkin tak akan pernah menjadi nyata...
Tak ada rajutan baju hangat yang indah..
Baju hangat untuk yang tercinta...
Karena rajutan yang rusak kini basah oleh penyesalan...
Karena dua benang itu kini putus oleh kebodohan..
Kebodohan aku yang silau oleh benang yang lain..
Andai bisa aku menyambung dua benang yang putus itu..
Akan kusambung lagi, akan kurajut kembali...
Aku yang bodoh ini akan berusaha...
Berusaha menyelesaikan rajutan baju hangat itu sampai akan menjadi indah...
Akan kurajut dengan sangat berhati – hati...
Tak akan ku biarkan benang itu kembali putus...
Tak akan...
Tak akan kuizinkan benang itu digantikan oleh benang yang lain..
Sampai dalam do’a pun...
Aku yang bodoh ini meminta pada Tuhan - Nya..
Ku adukan semua kesalahan dan kebodohanku...
Meminta agar Tuhan menyambung benang itu kembali...
Agar aku yang bodoh ini...
Bisa memperbaiki rajutan baju hangat untuk yang tercinta..
Jika masih ada kesempatan....
Aku yang bodoh ini...
Berjanji tak akan menyia – nyiakan semuanya..
Berjanji akan menjaga apa yang telah diberikan oleh Tuhan – Nya..
Ya Allah, kuselipkan namanya dalam do’aku..
Agar Engkau senantiasa menjaga hatinya...
Karena aku yang bodoh ini..
Tak mampu menjaga hatinya yang sempat kau titipkan kepadaku...
Ya Allah, kupanjatkan pula do’a untuknya...
Agar dia berkenan membuka hatinya kembali..
Karena sungguh aku yang bodoh ini masih sangat berharap sayang dan cintanya..
Diary Ending Year's
Tiba kita di penghujung diary 2010…
Telah kita torehkan pada lembar putih sebuah peristiwa sepanjang tahun...
Telah kita lakukan apa yg kita harapkan di tahun yang lalu...
Saatnya kita evaluasi diri...
Apa yang telah kita lakukan saat ini???
Beragam bermacam hal, pasti telah kita lakukan...
Baik buruk pun telah dijalani dengan sadar atau tanpa sadar..
Dengan sengaja atau tak disengaja..
Seperti yang diharapkan atau bahkan yang tak kita inginkan...
Semua telah terjadi...
Apakah sudah sesuai dan mencapai harapan????
Setiap tahun pasti ada harapan, pasti ada impian, dan pasti harus ada tindakan...
Usaha, upaya, ikhtiar, serta tawakal..
Semampu kita, sekuat kita, sebesar kita..
Tapi semampu, sekuat bahkan sebesar kita, jika Tuhan belum putuskan itu terjadi...
Maka kita harus memperbaiki di tahun yang akan datang nanti..
Masih adakah yang perlu dibenahi???
Banyak.....
Masih banyak cita yang perlu dicapai...
Masih harus asa yang patut direngkuh...
Masih banyak akhlak yang harus ditata...
Masih segudang impian yang wajib diraih...
Jika belum sesuai harapan..
Itu artinya kita harus tetap berjuang...
Itu tandanya kesuksesan kita masih tertunda...
Karena semua akan jauh lebih indah tepat pada waktunya..
Mari kita lihat lagi seperti apa tingkah polah kita di tahun ini..
Kenakalan kita....
Kebaikan dan keburukan kita...
Ibadah kita...
Semuanya....
Satu hal yang tak boleh terlupa...
Puji syukur atas usia yang masih kita dapati sampai saat ini..
Hingga kita insyaallah esok akan bertemu dengan tahun yang baru..
Sampai kita bisa kembali bermimpi dan berharap jauh lebih baik dari tahun ini...
Happy NewYear’s 2011..
Sumangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaddd..
Gambatte Kudasai..
Aku yang Tanpa Semangat
Tak sesuap nasi ku telan...
Tak setetes air ku teguk...
Langit pun mengerti rasa di dalam dada...
Awan hitam menutupi matahariku...
Awan hitam yang ku ibaratkan adalah kesedihan...
Dan matahari yang ku jadikan semangat...
Kesedihan yang menutupi semangatku...
Perlahan awan kelam itu menurunkan air berupa hujan...
Seperti kesedihan yang meneteskan air mata...
Hujan yang turun di pagi hari basahi bumi...
Air mata yang menetes mengalir basahi pipi...
Suasana haru menyelimuti hati...
Membuat aku enggan untuk beranjak melangkah...
Ku paksakan kaki berjalan walau tanpa arah...
Tanpa pedoman dan tanpa tujuan...
Ku langkahkan kaki ke tempataku menuntut ilmu...
Tapi kesedihan masih saja mengikuti aku...
Aku berusaha untuk seperti biasa...
Tapi raut wajah sendu dan tutur kata tak bisa berdusta...
Aku sedih, aku menangis, dan entah apa yang tengah terjadi pada aku...
Aku yang tanpa semangat....
Kau
Kau pernah hadir sekian waktu
memberi warna ceria dalam hidupku
Hitam putih itu berbaur merah jambu
Kau beriku semua rasa yang kusuka
tiada pernah mampu kulupa
Kau pelukku dalam derai tawa
kau ciumiku dengan segenap rasa
Kadang kau berlinang air mata
Kukecup kau dengan cinta
Kudekap kau dengan mesra
Dan senyummu pun merekah
Kau dan aku
kita bahagia berdua
Kukira itu selamanya
namun tiada yang abadi di dunia
Di sini aku mengukir bayangmu yang pernah ada
Kusketsa wajahmu dengan nafas yang tersisa
Kembalikanku pada kenangan tentang kita
Kau belahan jiwaku
Tak mampu aku hidup tanpamu
Tak kuasa kutatap langit di atas sana
Wajahmu ada di mana-mana
Gelak tawamu menggema di seluruh jagad raya
Di manakah kau......... datanglah
Lihatlah aku
Yang terbenam dalam kenangan tentang kita
Langganan:
Postingan (Atom)